Kata
Papua berasal dari bahasa melayu yang berarti rambut keriting, sebuah
gambaran yang mengacu pada penampilan fisik suku-suku.
Beragam
karya seni budaya asli masyarakat Papua belakangan ini mulai terancam
punah. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan pada suatu saat nanti seni
budaya masyarakat Papua itu hilang begitu saja karena tidak adanya
regenerasi. Kekhawatiran itu bisa menjadi kenyataan karena hingga saat
ini terkesan tidak adanya perhatian pemerintah untuk memberikan
perlindungan hukum. Di sisi lain, Peraturan Daerah Khusus (Perdasus)
Papua belum mengatur usaha perlindungan karya-karya seni dan budaya
masyarakat Papua.
Pengawas
Kebudayaan dan Kesenian Papua, Fhilip Ramandey, di Biak, kepada kantor
berita Antara, mengharapkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua bersama
DPR Papua segera mengesahkan Peraturan Perlindungan Karya Seni Budaya
Papua dan Perdasus sebagai bentuk proteksi dalam menjaga keaslian budaya
Papua.
"Ketika
Belanda menguasai Biak, telah ada pengakuan perlindungan budaya asli
Papua. Tapi, sekarang tidak ada peraturan daerah yang melindungi karya
seni di Papua," kata Ramandey menanggapi pembentukan Perdasus dan
Peraturan Perlindungan Budaya Asli Papua (Perdasi).
Ia
mengatakan, pembentukan Perdasus dan Perdasi Papua untuk perlindungan
karya seniman di Papua sangat mendesak disahkan oleh pihak pemerintah
dan DPR Papua. "Jangan sampai terjadi negara lain mengklaim seni budaya
masyarakat Papua, baru kita pusing memikirkan usaha perlindungan karya
seni dan budaya masyarakat Papua. Saat ini banyak karya seni dan budaya
Papua mengalir ke negara-negara asing seperti Australia, Papua Nugini,
serta Selandia Baru," kata Ramandey.
Penyiapan
Perdasus dan Perdasi Perlindungan Budaya Asli Papua, menurut Ramandey,
merupakan upaya masyarakat Papua dalam menjaga keaslian budaya Papua.
Ada
beberapa budaya asli Papua yang mengalami pergeseran. Contohnya,
menurut Ramandey, di Genyem Kabupaten Jayapura, warga asli Papua telah
mengubah pola makan papeda dengan tahu.
Bahkan,
ketika digelar Festival Danau Sentani di Jayapura, kelihatan pelaku
kesenian dan gelar budaya warga Papua adalah orang-orang tua yang sudah
uzur usianya. "Itu memprihatinkan karena membuktikan tidak adanya
regenerasi. Kenyataan itu bisa membahayakan kalau anak-anak muda Papua
sekarang juga tidak diperkenalkan dengan beragam bentuk seni dan budaya
Papua," ujar beberapa pakar seni budaya Papua yang dihubungi Suara Karya
di Jayapura.
Pakar
budaya itu juga membenarkan, kebiasaan lama warga Papua kini berangsur
hilang, yakni makan papeda dengan ikan gabus. Dulu, warga Papua tidak
mau makan papeda kalau bukan dengan kuah ikan gabus. Tapi, sekarang
mereka memilih makan papeda dengan sayur tahu.
Perubahan
budaya Papua lainnya, menurut Ramandey, patung lukisan yang dijual di
kawasan sentra Pasar Hamadi yang dulu dihasilkan masyarakat Sentani,
Kabupaten Jayapura, kini telah dapat dibuat perajin patung dari
Makassar. Juga tifa genderang khas Biak, pada awalnya dibuat dua tempat
tabuhnya. Tetapi, saat ini tinggal satu tempat. "Karya seni asli Papua
jika tidak dilindungi dari sekarang, pada beberapa tahun ke depan akan
musnah serta tidak dikenali lagi generasi muda Papua, Karena itu,
Perdasus dan Perdasi Papua sangat tepat menjaga keaslian budaya Papua,"
kata Ramandey.
Menanggapi
ajang Festival Seni Papua di Kabupaten Biak Numfor, Ramandey
mengatakan, karena ajang kreasi seni merupakan pesta rakyat di tanah
Papua, maka kegiatan itu perlu dipublikasikan.
"Rakyat
selalu menggelar pesta, tetapi masyarakat Papua sendiri tidak begitu
banyak menghadiri pesta seni budaya asli Papua di Kabupaten Biak
Numfor," ujar Ramandey. (Ami Herman)
sumber : http://kesenian-ubl.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar