Jumat, 28 Februari 2014

Sumber Daya Alam Provinsi Papua

papua.png
Provinsi ini sangat kaya dengan berbagai potensi sumberdaya alam. Sektor pertambangannya sudah mampu memberikan kontribusi lebih dari 50% perekonomian Papua, dengan tembaga, emas, minyak dan gas menempati posisi dapat memberikan kontribusi ekonomi itu. Di bidang pertambangan, provinsi ini memiliki potensi 2,5 miliar ton batuan biji emas dan tembaga, semuanya terdapat di wilayah konsesi Freeport. Di samping itu, masih terdapat beberapa potensi tambang lain seperti batu bara berjumlah 6,3 juta ton, barn gamping di atas areal seluas 190.000 ha, pasir kuarsa seluas 75 ha dengan potensi hasil 21,5 juta ton, lempung sebanyak 1,2 jura ton, marmer sebanyak 350 juta ton, granit sebanyak 125 juta ton dan hasil tambang lainnya seperti pasir besi, nikel dan krom.
Karena 90% dari daratan Papua adalah hutan, produk unggulan pun banyak lahir dari belantara yang dipadati lebih dari 1.000 spesies tanaman. Lebih dari 150 varientas di hutan itu merupakan tanaman komersial. Hutan di Papua mencapai 3l.079.185,77 ha, terdiri atas hutan konservasi seluas 6.436.923,05 ha (20,71%), hutan lindung 7.475.821,50 ha (24,05%), hutan produksi tetap 8.171606,57 ha (26,3 %), hutan produksi terbatas 1.816.319 ha (5,84%), dan hutan yang dapat dikonversi 6.354.726 ha (20,45%). Ditambah areal penggunaan lainnya 821.787,91 ha (2,64%). Hutan hutan di provinsi ini memberikan kontribusi yang cukup besar bagi pendapatan asli daerah, Contoh, sebanyak 323.987m3, kayu bangunan/timber sebanyak 1.714 m3, kayu balok olahan/block board sebanyak 1.198 m3, triplek/plywood sebanyak 88.050 m3 dan kayu olahan/chips sejumlah 45.289 m3.
Di sektor perkebunan, dari 5.459.225 ha lahan yang ada, tak kurang dari 160.547 ha sudah dimanfaatkan untuk perkebunan rakyat (PR) maupun perkebunan besar (PB), tenaga kerja dengan total produksi 62.153 ton. Komoditas unggulan pada 2005 dengan total produksi 12.347 ton (19,87%), sawit dengan produksi 31.021 ton (49,91%), kakao dengan produksi 11.363 ton (18.28%), kopi Arabic produksi 2.583 ton (4.16%), buah merah dengan produksi 1.889 ton (3,04%) dan karet dengan total produksi 1.458 ton (2,35%). Pada 2005 kayu mencapai 20.711 ton dan Jayapura dengan produksi 2.444 ton pada 2005. produksi sayur mayur selama 2005 hanya mencapai 13,99 ton, menurun dibandingkan dengan 2004 yang mencapai 25,78 ton.
Provinsi ini memiliki lahansawah beririgasi teknis seluas 3.845 ha pada 2006, beririgasi nonteknis 3.696 ha. Total saluran irigasi primer mencapai 1.984 km, irigasi sekunder 23,45 km sementara irigasi tersier 4,25 km. Sawah sawah tersebut dapat menghasilkan 61.922 ton padi, meningkat dibanding dua tahun terakhir mencapai 61.750 ton. Pada saat Panen Raya Padi di Merauke, padatanggal 5 April 2006, Presiden berharap bahwa: ”Merauke menjadi sentara pertumbuhan baru, bukan hanya untuk padi, tetapi juga untuk sektor lainnya”. Presiden berpesan, ... ”ketika terjadi pertumbuhan sawah, pertumbuhan tebu, pertumbuhan kelapa sawit, nantinya pendidikan dan lain lain, tenaga kerja dan lain-lain, tolong sekali lagi diperhatikan dan ditingkatkan kesejahteraan penduduk asli sehingga betul-betuk kesetaraan yang baik, dengan demikian dapat meningkatkan persaudaraan dan harmoni diantara semua warga yang ada di daerah ini”.
Di sektor perikanan, memiliki kekayaan yang kurang besar di sepanjang 1.170 mil garis pantai yang dipenuhi ribuan pulau pulau kecil. Provinsi ini memiliki terumbu karang terkaya dan terbaik di dunia. Hutan bakau terluas dan terbaik di dunia, dengan berbagai jenis ikan mulai dari pelagis besar, kecil, kerapu, udang, teripang, kerang, dan lain lain. Potensi lestari perikanan Papua sebesar 1.404.220 ton per tahun, dengan produksi tahun 2005 mencapai 209.210,3 ton, meningkat 13,29% dibanding produksi 2004 yang hanya mencapai 180.612,4 ton. Dari produksi perikanan, 95,83% merupakan hasil produksi perikanan laut dengan nilai produksi selama 2005 mencapai Rp. 2.215 miliar atau menurun 44,86% banding 2004 yang mencapai Rp 2.451 miliar.
Populasi ternak besar dan kecil selama tahun 2005 umumnya naik. Ternak kerbau pada 2005 naik 14,54% dari 1.131 ekor pada 2004 menjadi 1.292 ekor pada tahun 2006, sementara ternak kuda dari 1.576 ekor pada 2004 menjadi 1.501 ekor pada 2005 lalu meningkat menjadi 2.061 ekor pada 2006. Kenaikan persentase dialami ternak sapi (8,6%), kambing (5,37%) dan babi (19,50%). Populasi ternak kecil, antara lain ini kampung naik 18,99%, ayam pedaging naik 90% dan ayam ras petelur meningkat 19,58%.

sumber : http://www.indonesia.go.id

Asal-usul Nama Raja Ampat

Masyarakat setempat percaya jika di Teluk Kabui Kampung Wawiyai, pernah hidup sepasang suami istri yang menemukan enam telur naga.

Cerita ini berawal dari perjalanan keduanya mencari makan di tengah hutan. Saking asyiknya, tanpa terasa kaki mereka telah melangkah sampai ke tepi Sungai Waikeo. Di mana, mereka kemudian menemukan enam telur naga.

Saat membawa keenam telur naga tersebut, keduanya tak memiliki firasat apapun. Dipikirnya telur-telur itu hanyalah telur biasa saja. Makanya, setelah dibawa pulang, mereka menyimpannya di dalam kamar sebelum dimasak. Tapi, belum sempat dimasak, empat dari enam telur-telur itu menetas. Dari dalam keluar sosok manusia. Empat laki-laki dan satu wanita. Nama mereka masing-masing adalah War, Betani, Dohar, Mohammad, dan Pintolee (yang wanita).

Seiring berjalannya waktu, kelima anak ini tumbuh. Pintolee kemudian didapati oleh kakaknya hamil di luar nikah. Dia dihanyutkan dalam kulit bia (kerang besar) sampai terdampat di Pulau Numfor.

Keempat kakak laki-laki Pintolee pun kemudian diangkat menjadi raja untuk empat pulau yang besar. Yaitu: War diangkat raja di Waigeo, Betani diangkat di Salawati, Dohar di Lilinta, dan Mohamad di Waiga. Sedangkan, telur naga yang tidak menetas hingga saat ini masih disimpan dan mendapat penghormatan khusus dari masyarakat setempat.

Nah, empat raja yang mendiami pulau-pulau utama itulah yang kemudian dijadikan dasar penamaan Raja Ampat ini.[]

sumber : http://365ceritarakyatindonesia.blogspot.com

Pakaian adat Papua yang Unik

Pakaian adat Papua untuk pria dan wanita hampir sama bentuknya. Pakaian adat tersebuta memakai hiasan-hiasan seperti hiasan kepala berupa burung cendrawasih, gelang, kalung, dan ikat pinggang dari manik-manik, serta rumbai-rumbai pada pergelangan kaki. 

sumber : http://kesenian-ubl.blogspot.com

Karya seni budaya Papua terancam Punah

Kata Papua berasal dari bahasa melayu yang berarti rambut keriting, sebuah gambaran yang mengacu pada penampilan fisik suku-suku.
Beragam karya seni budaya asli masyarakat Papua belakangan ini mulai terancam punah. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan pada suatu saat nanti seni budaya masyarakat Papua itu hilang begitu saja karena tidak adanya regenerasi. Kekhawatiran itu bisa menjadi kenyataan karena hingga saat ini terkesan tidak adanya perhatian pemerintah untuk memberikan perlindungan hukum. Di sisi lain, Peraturan Daerah Khusus (Perdasus) Papua belum mengatur usaha perlindungan karya-karya seni dan budaya masyarakat Papua.

Pengawas Kebudayaan dan Kesenian Papua, Fhilip Ramandey, di Biak, kepada kantor berita Antara, mengharapkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua bersama DPR Papua segera mengesahkan Peraturan Perlindungan Karya Seni Budaya Papua dan Perdasus sebagai bentuk proteksi dalam menjaga keaslian budaya Papua.

"Ketika Belanda menguasai Biak, telah ada pengakuan perlindungan budaya asli Papua. Tapi, sekarang tidak ada peraturan daerah yang melindungi karya seni di Papua," kata Ramandey menanggapi pembentukan Perdasus dan Peraturan Perlindungan Budaya Asli Papua (Perdasi).
Ia mengatakan, pembentukan Perdasus dan Perdasi Papua untuk perlindungan karya seniman di Papua sangat mendesak disahkan oleh pihak pemerintah dan DPR Papua. "Jangan sampai terjadi negara lain mengklaim seni budaya masyarakat Papua, baru kita pusing memikirkan usaha perlindungan karya seni dan budaya masyarakat Papua. Saat ini banyak karya seni dan budaya Papua mengalir ke negara-negara asing seperti Australia, Papua Nugini, serta Selandia Baru," kata Ramandey.

Penyiapan Perdasus dan Perdasi Perlindungan Budaya Asli Papua, menurut Ramandey, merupakan upaya masyarakat Papua dalam menjaga keaslian budaya Papua.

Ada beberapa budaya asli Papua yang mengalami pergeseran. Contohnya, menurut Ramandey, di Genyem Kabupaten Jayapura, warga asli Papua telah mengubah pola makan papeda dengan tahu.
Bahkan, ketika digelar Festival Danau Sentani di Jayapura, kelihatan pelaku kesenian dan gelar budaya warga Papua adalah orang-orang tua yang sudah uzur usianya. "Itu memprihatinkan karena membuktikan tidak adanya regenerasi. Kenyataan itu bisa membahayakan kalau anak-anak muda Papua sekarang juga tidak diperkenalkan dengan beragam bentuk seni dan budaya Papua," ujar beberapa pakar seni budaya Papua yang dihubungi Suara Karya di Jayapura.

Pakar budaya itu juga membenarkan, kebiasaan lama warga Papua kini berangsur hilang, yakni makan papeda dengan ikan gabus. Dulu, warga Papua tidak mau makan papeda kalau bukan dengan kuah ikan gabus. Tapi, sekarang mereka memilih makan papeda dengan sayur tahu.

Perubahan budaya Papua lainnya, menurut Ramandey, patung lukisan yang dijual di kawasan sentra Pasar Hamadi yang dulu dihasilkan masyarakat Sentani, Kabupaten Jayapura, kini telah dapat dibuat perajin patung dari Makassar. Juga tifa genderang khas Biak, pada awalnya dibuat dua tempat tabuhnya. Tetapi, saat ini tinggal satu tempat. "Karya seni asli Papua jika tidak dilindungi dari sekarang, pada beberapa tahun ke depan akan musnah serta tidak dikenali lagi generasi muda Papua, Karena itu, Perdasus dan Perdasi Papua sangat tepat menjaga keaslian budaya Papua," kata Ramandey.

Menanggapi ajang Festival Seni Papua di Kabupaten Biak Numfor, Ramandey mengatakan, karena ajang kreasi seni merupakan pesta rakyat di tanah Papua, maka kegiatan itu perlu dipublikasikan.
"Rakyat selalu menggelar pesta, tetapi masyarakat Papua sendiri tidak begitu banyak menghadiri pesta seni budaya asli Papua di Kabupaten Biak Numfor," ujar Ramandey. (Ami Herman) 



sumber : http://kesenian-ubl.blogspot.com

Sejarah 1 Mei di tanah Papua Indonesia

JAYAPURA - Dewan Adat Papua (DAP) berpendapat pada hari Rabu, 1 Mei 2013 mendatang, akan menandai “Penyerahan Secara Illegal” Tanah Papua oleh Kerajaan Belanda kepada Pemerintah Republik Indonesia (RI) dengan dukungan internasional dibawah payung Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB). “Jadi bagi Indonesia, 50 tahun di Tanah Papua adalah masa keemasan, masa penuh “Madu dan Susu”.  Jutaan ton emas dan tembaga, jutaan barel minyak bumi, hasil hutan yang nilainya tak terhitung lagi, kekayaan laut dan sumber daya alam (SDA) Papua lainnya juga ikut digarong (curi, red) oleh Jakarta (Indonesia),” ucap Sekretaris Umum (Sekum) Dewan Adat Papua (DAP) yang juga merangkap sebagai Pelaksana Tugas Harian (Plth) Ketua Umum (Ketum) DAP, Willem Rumaseb didampingi Ketua Dewan Adat Mamta, Ones Banundi ketika menyambangi Redaksi Harian Bintang Papua, Senin (29/4) kemarin malam.

“Sebaliknya, bagi Bangsa Papua dalam rangkulan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) selama 50 tahun adalah hidup dalam kerangkeng besi berduri emas yang penuh darah dan air mata. Dimana, situasi ini yang sangat merendahkan martabat manusia Papua, yakni luka bernanah dan terus – menerus berdarah sejak hari pertama berintegrasi (1 Mei 1963). Dan, tak ada satupun masa keemasan yang dinikmati Bangsa Papua sejak dipaksa (aneksasi, red) menjadi bagian dari NKRI pada tahun 1963 silam,” ungkap Willem Rumaseb.
Dikatakan Willem demikian sapaan akrabnya, integrasi 1 Mei 1963 lalu merupakan sebuah fakta sejarah Tanah Papua yang selalu harus dilihat dari 2 sisi yang berbeda. Dimana, Pemerintah Indonesia memandang integrasi sebagai proses yang telah final dan sah berdasarkan ketentuan PBB.
“Sehingga bagi Bangsa Papua untuk kejadian seperti itu justru merupakan pelanggaran secara terang – terangan terhadap hak dan kedaulatan politik Bangsa Papua berdasarkan ketentuan PBB.  Jadi, mengenang kejadian yang menandai dimulainya pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) sistematis oleh Pemerintah RI atas rakyat Bangsa Papua, maka dengan tegas akan memperingatinya (1 Mei) melalui perayaan di Jayapura dan kota – kota lain di atas Tanah Papua dalam doa bersama dan penyampaian aspirasi kepada Pemerintah RI,” tegas Willem.
Lanjut Willem, rencana pernyataan itu kemudian disikapi Gubernur Provinsi Papua, Lukas Enembe, S.IP, MH, dengan menyerukan kepada Kapolda Papua, Irjend Pol. Drs. M. Tito Karnavian agar tidak mengijinkan perayaan 1 Mei tersebut dilakukan oleh Bangsa Papua diatas tanahnya sendiri.
Sehubungan dengan itu, atas nama Bangsa Papua dalam hal ini DAP dengan tegas, kata Willem dalam kehidupan berdemokrasi, Bangsa Papua memiliki hak dan kebebasan yang sama dengan Bangsa Indonesia maupun bangsa – bangsa lain di atas jagad raya ini guna mengekspresikan pendapat secara bebas berdasarkan keyakinan, yang mana hak itu diakui berdasarkan deklarasi PBB dan seharusnya juga dihormati oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono.
“Jadi, kami dari DAP sangat menyesalkan adanya larangan pemerintah RI terhadap rencana perayaan hari Integrasi yang akan dilakukan rakyat Bangsa Papua. Dengan tegas kami sampaikan bahwa Bangsa Papua adalah pemilik sah Tanah Papua dan adanya larangan dari Gubernur Papua adalah bukti nyata bahwa Presiden RI, SBY masih mewarisi kebijakan kolonialisme yang sudah lama diterapkan di Papua sejak Presiden RI pertama, Soekarno pada Tahun 1963 silam,” tegasnya.
Willem berujar, pengekangan dan pembungkaman terhadap kebebasan berpendapat Bangsa Papua selama ini membuktikan bahwa pintu ruang demokrasi di Papua yang digembar-gemborkan Presiden SBY maupun Partai Demokratnya itu hanya dibuka separuh – separuh menurut kepentingan politik Jakarta, dan bukan karena Jakarta mengerti dan menghormati hak demokrasi Bangsa Papua.
Willem kembali mengatakan, dengan momentum perayaan hari Integrasi Papua ke-50 tahun, Bangsa Papua hendak menegaskan kepada Pemerintah RI dan komunitas Internasional bahwa status politik Papua bermasalah. “Dimana, Otsus Papua yang ditawarkan sebagai solusi itu telah gagal dan program terbaru dari Indonesia adalah UP4B bukanlah solusi untuk Bangsa Papua. Karena bangsa Papua masih tertindas dan Pemerintah RI harus membuka diri bagi proses memerdekakan Papua secara damai menurut standar internasional. Sehingga kami dari DAP menyerukan kepada Gubernur Papua maupun Papua Barat sebagai perpanjangan tangan dari Pemerintah RI diatas Tanah Papua untuk memberi jaminan keamanan bagi rakyat Papua dan mengoreksi semua kebijakan yang telah melecehkan atau merugikan rakyat Bangsa Papua serta tidak perlu lagi ada gerakan militer secara berlebihan baik yang akan dilakukan TNI/Polri kepada rakyat Bangsa Papua,” pungkasnya. (mir/don/l03)

sumber : http://bintangpapua.com

Rumah adat di Papua






Honai adalah rumah khas Papua yang dihuni oleh Suku Dani. Rumah Honai terbuat dari kayu dengan atap berbentuk kerucut yang terbuat dari jerami atau ilalang. Honai mempunyai pintu yang kecil dan tidak memiliki jendela. Sebenarnya, struktur Honai dibangun sempit atau kecil dan tidak berjendela bertujuan untuk menahan hawa dingin pegunungan Papua.
Rumah adat Masyarakat Papua, atau yang biasa disebut dengan Honai.
Honai terdiri dari 2 lantai yaitu lantai pertama sebagai tempat tidur dan lantai kedua untuk tempat bersantai, makan, dan mengerjakan kerajinan tangan. Karena dibangun 2 lantai, Honai memiliki tinggi kurang lebih 2,5 meter. Pada bagian tengah rumah disiapkan tempat untuk membuat api unggun untuk menghangatkan diri. Rumah Honai terbagi dalam tiga tipe, yaitu untuk kaum laki-laki (disebut Honai), wanita (disebut Ebei), dan kandang babi (disebut Wamai).

sumber : http://kesenian-ubl.blogspot.com

Daftar suku bangsa di Papua

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Pulau Papua dengan ragam bahasa
Suku di Papua adalah suku-suku yang tinggal di pulau Papua, mereka satu rumpun dengan penduduk benua Australia asli yaitu suku/orang Aborigin.

Penyebaran

Suku yang tersebar di pulau papua dibagi menjadi dua yaitu :
  • Suku papua yang berada di Indonesia yang menempati sisi sebelah barat Pulau Papua/West New Guinea terdiri atas 466 suku bangsa.[1]
  • Suku papua yang berada di Papua New Guinea yang menempati di sebelah timur disebut East New Guinea/Papua Nugini yang berjumlah hampir 800-an bahasa.
sumber :wikipedia

Jenis-jenis Tarian dari Papua Indonesia dan Defenisinya


Tari Kreasi Balada Cenderawasih

Balada burung cenderawasih yang mana dikisahkan oleh Drs. Jhon Modouw  tentang kepunahan burung cenderawasih lalu digarap menjadi sebuah tari yang disebut tari balada cenderawasih. namun sayang kurang adanya tanggapan dari pemerintah dan dinas terkait untuk bisa memahami niat baik dari para seniman dan budayawan yang turut prihatin akan habitat burung cenderawasih yang semakin lama semakin punah….  kita tahu dari sekian banyaknya jenis cenderawasih cuma saat ini hanya beberapa saja yang tersisa. untuk itu para seniman membuat cerita kisah hidup dari burung cenderawasih dalam bentuk tari dan cerita agar kita semua dapat menyadari bahwa sebuh titipan yang terindah dari yang Kuasa mulai hilang dari bumi papua……  tapi sekarang saya mau ajak kitorang semua pecinta seni dan budaya… mari sama-sama berkarya dalam kontes memelihara dan menjaga habitat ini dalam lagu dan tari…. 



YOSPAN = YOSIM PANCAR

Yosim Pancar atau biasa disingkat Yospan adalah tari pergaulan/persahabatan para muda-mudi. Yospan merupakan penggabungan dari dua tarian rakyat di Papua, yaitu Yosim dan Pancar.

Yosim adalah suatu tarian tua mirip poloneis dari dansa Barat dan berasal dari Sarmi, suatu kabupaten di pesisir utara Papua, dekat Sungai Mamberamo, namun ada juga yang mengatakan bahwa Yosim berasal dari wilayah teluk Saireri (Serui, Waropen). Sedangkan Pancar adalah suatu tarian yang berkembang di Biak Numfor dan Manokwari awal 1960-an semasa zaman Belanda di Papua, meniru pada awal sejarah kelahirannya, gerakan-gerakan “akrobatik” di udara - seperti gerakan jatuh jungkir-balik dari langit, mirip daun kering yang jatuh tertiup angin - dari pesawat tempur jet Neptune buatan Amerika Serikat yang dipakai Angkatan Udara Belanda di Irian Barat. Awal 1960-an, konflik Belanda-Indonesia seputar status kedaulatan atas Irian Barat masih berlangsung. Karena pesawat tempur ini digerakkan oleh pancaran gas (jet), maka tarian yang meniru gerakan akrobatiknya mula-mula disebut Pancar Gas, kemudian disingkat menjadi Pancar. Sejak kelahirannya awal 1960-an, Pancar sudah memperkaya gerakannya dari sumber-sumber lain, termasuk dari alam.

Tari Yosim Pancar memiliki dua regu pemain yaitu Regu Musisi dan Penari. Penari Yospan lebih dari satu orang dengan gerakan dasar yang penuh semangat, dinamik dan menarik. Beberapa jenis gerakannya yang terkenal seperti Pancar gas, Gale-gale, Jef, Pacul Tiga, Seka dan lain-lain.

Keunikan dari tarian ini adalah pakaian, aksesoris, dan alat musiknya. Warna dan jenis pakaian yang digunakan masing-masing Grup Seni tari/sanggar seni Yospan berbeda-beda, namun ciri khas Papua untuk aksesoris hampir sama. Alat-alat musik yang dipakai untuk mengiringi tarian Yospan seperti Gitar, Ukulele (Juk), Tifa dan Bass Akustik (stem bass). Ukulele, Tifa dan Stem Bass biasanya dibuat sendiri. Seorang yang sudah mahir bermain Stem Bass terkadang dapat bermain bukan lagi menggunakan jari atau telapak tangan untuk menekan not tapi menggunakan telapak kaki pada senar nilon. Irama dan lagu Tari Yospan secara khusus sangat membangkitkan kekuatan untuk tarian.

Yospan cukup populer dan sering diperagakan pada setiap event, acara adat, kegiatan penyambutan dan festival seni budaya. Yospan juga biasa ditampilkan di Manca Negara untuk memenuhi undangan atau mengikuti Festival disana.

Hampir setiap kampung di Papua memiliki grup seni tari yang terus dikembangkan.
Para Penari dan Musisi Tarian Yosim Pancar
sumber : http://kevin-kenedy.blogspot.com

4 Obyek Wisata Terkenal di Tanah Papua

raja ampat wisata
ZONADAMAI.com: Papua, jika kita membicarakan papua maka hal yang pertama kita ingat adalah sebuah tempat yang indah dengan panorama menakjubkan, ya pulau paling timur indonesia ini memang memiliki destinasi wisata yang sangat indah yang masih belum dikenal oleh dunia luar, namun potensi objek wisata di tanah papua tidak kalah dengan wisata di daerah lain di indonesia.
Apa saja akah objek wisata yang terkenal di papua? berikut infonya untuk anda:
1. Raja Ampat
raja ampat
Raja ampat adalah salah satu tempat wisata di papua yang sangat terkenal, raja ampat artinya empat raja, Tempat ini merupakan surga bawah laut dan diberi gelar sebagai Rumahnya Terumbu Karang di dunia. Gelar tersebut tidak diberikan sembarangan, sebab di Raja Ampat memang memiliki sekitar 75% dari jenis-jenis terumbu karang yang ada di seluruh dunia.
Selain itu, Raja Ampat juga kaya akan fauna bawah air Jadi, bagi anda penggemar diving, mengunjungi raja ampat adalah suatu hal yang wajib anda lakukan jika anda memang ingin mendapatkan pengalaman menyelam yang menakjubkan. Bagaimana tertarik?
2. Danau Santani
santani lake
Danau Sentani adalah danau yang terletak di provinsi bagian timur Papua Indonesia. Danau Sentani berada di bawah lereng Pegunungan Cagar Alam Cycloops yang memiliki luas sekitar 245 ribu hektar. Danau ini terbentang antara Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura, Papua. Danau Sentani yang memiliki luas sekitar 9.360 hektar dan berada pada ketinggian 75 mdpl. Danau Sentani merupakan danau terbesar di Papua.
Di danau ini juga terdapat 21 buah pulau kecil menghiasi danau yang indah ini. Arti kata Sentani berarti “di sini kami tinggal dengan damai”. Nama Sentani sendiri pertama kali disebut oleh seorang Pendeta Kristen BL Bin ketika melaksanakan misionaris di wilayah danau ini pada tahun 1898.
3. Salju Abadi Jayawaijaya
jayawijaya mountain
Salah satu tempat wisata populer di tanah papua adalah puncak jayabijaya yang dikenal sebagai salju abadi, salah satu gunung tertinggi di dunia ini memang sangat menakjubkan, bagaimana tidak negeri yang di lalui garis khatulistiwa ini ternyata bisa bersalju itulah yang membuktikan tingginya puncak jayawijaya ini, sebab meskipun di negara tropis dan dilalui garis khatulistiwa namun puncak jayawijaya ini selalu diselimuti salju tebal, dan diberi gelar sebagai salju abadi,
Oleh sebab itu banyak pendaki dari berbagai belahan dunia datang ke salju abadi jayawijaya untuk mencoba dan merasakan mendaki tingginya puncak jayawaijaya, bagaimana anda tertarik?
4. Arkeolog Papua
Salah satu surga wisata di papua adalah arkeolog papua, papua memang sering dikatakan sebagai surganya tempat wisata karena selain memiliki objek wisata alam papua juga memiliki objek wisata Peninggalan arkeologi, arkeolog di wilayah Papua berasal dari jaman prasejarah di era Mesolitikum dimana berburu dan meramu adalah aktivitas utama manusia. Peninggalan arkeologi dari jaman ini misalnya Grotto Dudumunir Pulau Araguni, Kecamatan Fakfak, Papua Barat. Di tempat ini juga ditemukan artefak-artefak berupa alat pengeruk dan mata panah.
Relik dari era yang sama juga ditemukan dalam bentuk lukisan di atas dinding gua dan batu seperti di Bukit Tutari, Kecamatan Doyo Lama, Jayapura, Papua. Relik arkeologi yang tersebar di hampir semua area Papua dapat dimanfaatkan sebagai aset yang cukup potensial. Keberagaman ini dapat dijadikan sebagai nilai plus dalam pariwisata wilayah Papua.
Nah itu lah beberapa objek wisata di papua, sebenarnya masih banyak lagi objek wisata di papua namun akan kita bahas lain waktu, dengan potensi wisata yang sangat besar di papua bisa kita prediksikan dalam beberapa tahun kedepan papua akan menjadi destinasi wisata nomor 1 di indonesia. [viva.co.id]

sumber : http://zonadamai.com

RESEP DAN CARA MEMBUAT PAPEDA KUAH KUNING KHAS PAPUA



Masyarakat Papua menyebut bubur sagu dengan nama Papeda. Papeda sendiri merupakan makanan khas warga Papua. makanan ini juga terbuat dari tepung sagu yang diberi sedikit air kemudian ditambahkan garam serta gula secukupnya sehingga jadilah makanan ini sebagai makanan pokok pengganti nasi. Awal mulanya Papeda ini dibuat oleh penduduk pedalaman yang ada di Papua.
Papeda umumnya dihidangkan dengan kuah kuning, dimana kuah tersebut diolah dari ikan tongkol kemudian dibumbui kunyit dan jeruk nipis.
Adapun proses membuat makanan khas Papua ini antara lain sebagai berikut.
 
Bahan-bahan :
  1. 150 gram tepung sagu.
  2. 1300 mililiter air bersih.
  3. 1 sdt garam halus.
  4. 1/2 sdt gula pasir.
Bahan pelengkap :
  1. ikan tongkol kuah kuning yang dimasak dengan menggunakan bumbu kunyit.
Cara membuatnya :
  • Mula-mula larutkan tepung sagu dengan menggunakan 300 ml air, lalu tambahkan pula garam halus dan gula pasir kedalamnya.
  • Selanjutnya masak sisa air yang digunakan tadi hingga mendidih. Kemudian setelah air mendidih, kecilkan api kompor dan tuangkan adonan sagu tadi kedalam air mendidih sambil diaduk secara perlahan hingga adonan sagu berubah warna menjadi bening, menggumpal dan matang.
  • Terakhir, jika papeda sudah matang, sajikan papeda bersama dengan ikan tongkol kuah kuning.
Selamat mencoba resep dan cara membuat papeda kuah kuning lezat khas Papua ini, semoga resep kali dapat bermanfaat dan memberikan inspirasi bagi ibu-ibu dirumah dalam menyajikan olahan dari sagu yang enak untuk keluarga tercinta. Terima kasih.
 
sumber : http://kulinerbee.blogspot.com

Tentang alat musik Tifa dari Papua


Tifa
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Alat musik tifa
Tifa merupakan alat musik khas Indonesia bagian Timur, khususnya Maluku dan Papua. Alat musik ini bentuknya menyerupai kendang dan terbuat dari kayu yang di lubangi tengahnya. Ada beberapa macam jenis alat musik Tifa seperti Tifa Jekir, Tifa Dasar, Tifa Potong, Tifa Jekir Potong dan Tifa Bas.
Tifa mirip dengan alat musik gendang yang dimainkan dengan cara dipukul. Alat musik ini terbuat dari sebatang kayu yang dikosongi atau dihilangi isinya dan pada salah satu sisi ujungnya ditutupi, dan biasanya penutupnya digunakan kulit rusa yang telah dikeringkan untuk menghasilkan suara yang bagus dan indah. Bentuknyapun biasanya dibuat dengan ukiran. Setiap suku di Maluku dan Papua memiliki tifa dengan ciri khas nya masing-masing.
Tifa biasanya digunakan untuk mengiringi tarian perang dan beberapa tarian daerah lainnya seperti tari Lenso dari Maluku yang diiringi juga dengan alat musik totobuang, tarian tradisional suku Asmat dan tari Gatsi.
Alat musik tifa dari Maluku memiliki nama lain, seperti tahito atau tihal yang digunakan di wilayah-wilayah Maluku Tengah. Sedangkan, di pulau Aru, tifa memiliki nama lain yaitu titir. Jenisnya ada yang berbentuk seperti drum dengan tongkat seperti yang digunakan di Masjid . Badan kerangkanya terbuat dari kayu dilapisi rotan sebagai pengikatnya dan bentuknya berbeda-beda berdasarkan daerah asalnya.[1]

Tifa totobuang

Tifa totobuang adalah musik asli yang sama sekali tidak dipengaruhi budaya luar. Musik ini merupakan musik khas warga yang tinggal di wilayah mayoritas Kristen. Dalam beberapa pertunjukan musik ini biasanya disandingkan dengan musik sawat, yang sebaliknya hanya dapat dimainkan oleh orang-orang yang tinggal di wilayah mayoritas Muslim.
Masing-masing alat musik dari Tifa totobuang memiliki fungsi yang berbeda-beda dan saling mendukung satu sama lain hingga melahirkan warna musik yang khas. Namun musik ini didominasi oleh alat musik tifa. Terdiri dari tifa jekir, tifa dasar, tifa potong, tifa jekir potong dan tifa bas ditambah dengan gong berukuran besar dan totobuang, yang merupakan serangkaian gong-gong kecil yang ditaruh pada sebuah meja, dengan beberapa lubang sebagai penyanggahnya.
Sayangnya musik nan indah ini, sekarang sangat jarang kita nikmati. Bahkan dapat dikatakan langkah. Musik ini hanya dapat dipertunjukan pada event-event tertentu. Misalnya acara penyambutan tamu khusus, pertunjukan kesenian daerah Maluku diluar daerah atau di luar negeri serta pada acara-acara adat. Pemainnya pun umumnya merupakan pemain yang diajarkan secara turun-temurun oleh orang tua mereka.[2]

sumber : wikipedia

Beberapa Nama-nama Bahasa Daerah di Papua Indonesia



Tradisi Potong jari di Papua Indonesia


Tradisi Potong Jari
TRADISI POTONG JARI, TRADISI BERKABUNG DI PAPUA
Kesedihan saat telah ditinggal pergi oleh orang yang cintai dan kehilangan salah satu anggota keluarga sangat perih.
Lain halnya dengan masyarakat pegunungan tengah Papua yang melambangkan kesedihan lantaran kehilangan salah satu anggota keluarganya yang meninggal tidak hanya dengan menangis saja. Melainkan ada tradisi yang diwajibkan saat ada anggota keluarga atau kerabat dekat seperti; suami,istri, ayah, ibu, anak dan adik yang meninggal dunia. Tradisi yang diwajibkan adalah tradisi potong jari. Jika kita melihat tradisi potong jari dalam kekinian pastilah tradisi ini tidak seharusnya dilakukan atau mungkin tradisi ini tergolong tradisi ekstrim. Akan tetapi bagi masyarakat pegunungan tengah Papua, tradisi ini adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukan. Mereka beranggapan bahwa memotong jari adalah symbol dari sakit dan pedihnya seseorang yang kehilangan sebagian anggota keluarganya.
Bisa diartikan jari adalah symbol kerukunan, kebersatuan dan kekuatan dalam diri manusia maupun sebuah keluarga. Walaupun dalam penamaan jari yang ada ditangan manusia hanya menyebutkan satu perwakilan keluarga yaitu Ibu jari. Akan tetapi jika dicermati perbadaan setiap bentuk dan panjang memiliki sebuah kesatuan dan kekuatan kebersamaan untuk meringankan semua beban pekerjaan manusia. Satu sama lain saling melengkapi sebagai suatu harmonisasi hidup dan kehidupan. Jika salah satu hilang, maka hilanglah komponen kebersamaan dan berkuranglah kekuatan.
Alasan lainya adalah "Wene opakima dapulik welaikarek mekehasik" atau pedoman dasar hidup bersama dalam satu keluarga, satu fam/marga, satu honai (rumah), satu suku, satu leluhur, satu bahasa, satu sejarah/asal-muasal, dan sebagainya (Hisage, Yulianus Joli, 07:2005). Kebersamaan sangatlah penting bagi masyarakat pegunungan tengah Papua. Hanya luka dan darah yang tersisa. Pedih-perih yang meliput suasana. Luka hati orang yang ditinggal mati anggota keluarga baru sembuh jika luka di jari sudah sembuh dan tidak terasa sakit lagi. Mungkin karena itulah masyarakat pegunungan papua memotong jari saat ada keluarga yang meninggal dunia.

Menurut informasi yang telah berkembang, bahwa pemotongan jari umumnya dilakukan oleh kaum ibu. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan pemotongan dilakukan oleh anggota orang tua keluarga laki-laki atau perempuan. Jika tersebut kasus yang meninggal adalah istri yang tak memiliki orang tua, maka sang suami yang menanggungnya.
Tradisi potong jari juga dilakukan oleh para Yakuza di Jepang. Tradisi ini muncul dari kaum Bakuto yang berartikan kaum penjudi. Tradisi potong jari disebut dengan yubitsume. Berbeda dengan yang ada di Papua pemotongan jari sebagai penolakan musibah yang merenggut nyawa atau bentuk berkabung karena anggota keluarga meninggal dunia. Akan tetapi yubitsume (potong jari) dilakukan sebagai penyesalan atapun sebagai bentuk hukuman. Awalnya hukuman yubitsume bersifat simbolik, karena ruas atas jari kelingking yang dipotong membuat si empunya tangan menjadi lebih sulit memegang pedang dengan kuat. Hal ini menjadi simbol kesungguhan dan ketaatan terhadap pemimpin.
Tradisi potong jari di Papua dilakukan dengan berbagai cara ada yang menggunakan benda tajam seperti pisau, kapak atau parang. Cara lainya yaitu mengikat jari dengan seutas tali sampai beberapa lama waktunya sehingga menyebabkan aliran darah terhenti dan pada saat aliran darah berhenti baru dilakukan pemotongan jari.

Selain tradisi pemotongan jari, ada juga tradisi yang dilakukan dalam upacara berkabung. Tradisi tersebut adalah tradisi mandi lumpur. Mandi lumpur dilakukan oleh kelompok atau anggota dalam jangka waktu tertentu. Mandi lumpur mempunyai konotasi berarti setiap orang yang telah meninggal dunia telah kembali kea lam. Manusia berawal dari tanah dan kembali ke tanah.

Tradisi potong jari pada saat ini belom ada sumber yang mengatakan bahwa masih berlangsung tradisi potong jari, namun belum ada sumber juga yang menyebutkan tradisi ini telah punah dan tidak dilaksanakan lagi. Bisa dikatakan ada namun jarang ditemui atau dilakukan dikarenakan mungkin karena pengaruh agama yang mulai berkembang di sekitar daerah pegunungan tengah Papua.

sumber : http://kebudayaanindonesia.net

Kebiasaan Masyarakat Papua Memakan Buah Pinang



Masyarakat Papua sangat menggemari memakan buah pinang yang menghasilkan air ludah berwarna merah itu bisa membuat lingkungan menjadi kotor, Mereka yang makan pinang ditambah campuran lainnya, sama seperti orang makan sirih yang menghasilkan air ludah berwarna merah. Biasanya air ludah itu dimuntahkan begitu saja di jalan, atau di mana saja. Bisa dibayangkan kalau air ludah itu dibuang di sembarang tempat  maka semua jalanan dan tempat-tempat santai akan berwarna merah, dinding-dinding juga berwarna merah akibat air ludah yang berwarna merah itu.

Jalan-jalan di sekitar terminal Bandara, atau di Kota Jayapura sendiri sebagian memang berwarna merah karena masyarakat dengan seenaknya membuang ludah di jalan atau tempat-tempat lainnya. Kesan jorok pasti terasa, dan kalau tahu penyebab warna merah itu adalah air ludah, maka kita akan hati-hati melangkah agar tidak menginjaknya.
Ada yang mengatakan, ludah berwarna merah itu tidak hanya dibuang di jalan, tapi kadang-kadang dengan sengaja dibuang ke bangunan yang baru dicat, atau lantai yang baru dibangun di sebuah bangunan baru. Yang bisa dilakukan hanyalah menempel stiker seperti larangan makan pinang itu. Dan itu pun rasanya belum tepat karena yang dilarang seharusnya membuang air ludah sembarangan, bukan tradisi makan pinang itu.

Kebiasaan membuang ludah hasil makan pinang itu sama seperti yang terjadi di Myanmar. Penduduk di sana juga terbiasa makan sirih yang dijual di pinggir jalan. Seperti merokok, setiap orang dapat membeli sirih untuk sekali makan. Karena itu, jangan heran di Myanmar jalan-jalan penuh dengan warna merah karena ludah berwarna merah dibuang sembarangan di jalan-jalan.

Kesan yang timbul mengunjungi Bandara Sentani memang sangat tidak nyaman. Semua toilet yang ada di Bandara itu dalam keadaan rusak, walau kata petugasnya sedang direnovasi. Toilet yang ada di terminal kedatangan, dan kebarangkatan semuanya tergenang air. Apalagi yang berada di luar terminal, semua toiletnya sedang ditutup karena alasan sedang dalam perbaikan. Kita khawatir genangan air yang ada di toilet itu selain air kencing dan air lainnya, pasti di dalamnya juga tercampur dengan air ludah yang berwarna merah dari pemakan pinang tersebut.

Dan lebih tidak menarik lagi di hampir semua Bandara di Papua, banyak anggota masyarakat yang bisa masuk sampai ke pinggir landasan tempat pesawat parkir, seperti di Bandara Sentani. Petugas memang berusaha untuk mencegah mereka masuk dan menghalau mereka untuk keluar dari daerah yang sebenarnya tertutup tersebut. Tapi mereka tetap tidak mau keluar dari lingkungan yang terbatas tersebut. Bagaimana faktor keselamatan penerbangan dengan adanya kelonggaran seperti itu.

Pemerintah memang telah berusaha memberikan yang terbaik bagi masyarakat, dan masyarakat juga sebenarnya harus menjaga dan memelihara apa yang telah dibangun oleh pemerintah tersebut. Kita juga harus menjaga kebersihan lingkungan kita, apalagi Papua merupakan salah satu tujuan wisatawan mancanegara, sehingga harus kita jaga kebersihannya dengan tidak membuang ludah sembarangan.
 
sumber : http://kangmini.blogspot.com

Di Wamena ada Mumi ?

Mumi?!

Ya, mumi, seperti mumi di Mesir atau mumi lainnya. Sebuah fakta yang menurut saya menarik. Kenapa? Indonesia gitu loh. Seumur-umur saya membaca, tak pernah sekali pun saya menemukan fakta bahwa Indonesia punya mumi. Wow...

Mumi di Wamena
Oke, ini postingan saya tentang mumi di Wamena, yang informasinya saya kurasi dari berbagai sumber.

***

Jadi, di Wamena terdapat dua mumi yang paling terkenal. Salah satunya mumi Wim Motok Mabel. Dalam bahasa lokal, Wim berarti perang. Motok berarti panglima. Dan Mabel adalah nama aslinya. Mumi ini berada di Desa Yiwika, Distrik Kurulu, Wamena, Papua.

Usia mumi ini? Jangan ditanya, ratusan tahun. Satu sumber menyebutkan angka 378 tahun, sumber lain menyebutkan 278 tahun. Ya, perbedaan usia tidak perlu diperdebatkanlah...

Sebuah pertanyaan tentang menggelitik benak kita semua tentang bagaimana cara memumifikasi jenazah disana?

Kebanyakan referensi menyebutkan bahwa proses mumifikasi adalah dengan pembalseman dengan racikan tertentu. Tapi, mumi di Wamena melalui proses mumifikasi yang lebih tradisional lagi.

Jadi, jenazah diasapi selama 200 hari di dalam honai (rumah adat Papua) khusus, yang jauh dari area pemukiman. Proses ini dibarengi dengan terus dilakukan pembaluran lemak babi ke tubuh jenazah. Nanti setelah terbentuk baru dipindahkan ke rumah keturunannya. Dan tetap terus diasapi dan dibalur hingga kini untuk perawatan.

Berikut beberapa foto eksklusif yang saya himpun dari detiktravel.

Mumi di Wamena
Mumi di Wamena 
Mumi di Wamena menjadi magnet bagi para pelancong. Untuk berfoto bersama mumi ini, pengunjung diharuskan merogoh kocek sedikit dalam. Menarik bukan ?
sumber : http://365ceritarakyatindonesia.blogspot.com

Desa Unik Marandan Weser dan Way Weser di Papua Barat






Sambut tamu: Tarian Yospan menyambut tamu di Tunduwe Raja Ampat, Papua Barat. Foto JPNN
Pegang Teguh Tradisi Tidak Merokok dan Minum Miras
Makin banyaknya wisatawan yang mengunjungi Marandan Weser dan Way Weser, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, tidak membuat dua desa tersebut terkontaminasi budaya luar. Penduduknya kukuh menjaga tradisi nenek moyang. Mereka tidak merokok dan tidak minum minuman keras (miras).
Laporan M. Ali, JAKARTA
Raja Ampat kini bukan nama asing lagi di telinga. Keindahan alam bawah lautnya sungguh memesona. Wisatawan domestik maupun asing dibuat penasaran ingin membuktikan kecantikan wisata bahari di Indonesia Timur itu.
     Namun, tidak banyak yang tahu bahwa Kabupaten Raja Ampat terdiri atas empat pulau besar yang masing-masing dipisahkan lautan. Empat pulau tersebut adalah Waigeo, Misool, Salawati, dan Batanta. Di pulau terakhir itulah terdapat Desa Marandan Weser dan Way Weser yang melegenda tersebut.
    Para wisatawan akan disambut ombak kecil di hamparan pasir putih nan alami. Bunyi suling tambur dan tarian Yospan di atas dermaga berbahan kayu sepanjang 80 meter akan membawa pengunjung menuju dua desa tersebut.
     Menurut Lasarus Ulim, salah seorang tokoh masyarakat Desa Maradan, tradisi warga yang tidak mengenal rokok dan minum miras itu sudah berlangsung sangat lama. Turun-temurun dan dijaga ketat hingga saat ini.
    Lasarus menjelaskan, sebenarnya tradisi mulia tersebut berlaku di seluruh wilayah Raja Ampat. Namun, seiring perkembangan zaman dan pengaruh budaya dari luar, kini tinggal dua desa itu yang masih memegang teguh aturan kuno tersebut.
    ’’Hanya Marandan Weser dan Way Weser yang mampu mempertahankan tradisi dan kepercayaan nenek moyang itu hingga sekarang,” tutur Lasarus kepada Jawa Pos (grup Radar Lampung) yang pekan lalu mengunjungi dua desa itu. ’’Kami jadi lebih sehat tanpa rokok dan minuman keras,” tambahnya.
    Meski memegang teguh tradisi itu, penduduk Desa Marandan Weser dan Way Weser sangat menghormati wisatawan atau orang asing yang tidak tahu tradisi tersebut. Mereka tak pernah melarang wisatawan yang karena tidak tahu merokok atau minum minuman beralkohol.
    Dalam budaya mereka, tamu adalah raja sehingga harus dihormati. Mereka tak berkeberatan jika ada tamu yang secara ’’tidak sengaja” melanggar tradisi desa itu. Namun biasanya, si tamu akan diberi tahu bahwa di desa tersebut ada tradisi yang tidak membenarkan orang merokok dan minum miras.
    ’’Tidak sopan jika kami harus mengusir atau menegur dengan keras. Sebab, mereka adalah tamu. Beda halnya jika mereka adalah warga asli sini. Maka teguran bahkan pengasingan akan kami berikan jika mereka melanggar apa yang sudah kami anut itu,” tuturnya.
    Bahkan, kata Lasarus, warga pantang mengambil barang milik orang lain. Misalnya, ada barang wisatawan yang tertinggal, pasti dikembalikan. Warga tidak berani melanggar.
    Selain itu, warga kedua desa tidak memakan daging, kecuali ikan. Setiap hari mereka hanya makan sayuran dan buah-buahan. Dalam kepercayaan mereka, hewan juga mempunyai nyawa seperti manusia sehingga tidak dibenarkan untuk dibunuh dan dimakan dagingnya.
    Hal itu mendorong warga untuk giat bercocok tanam dan melakoni pekerjaan sebagai nelayan. Mereka hidup dari dua pekerjaan tersebut. Masyarakat suku Tasdarum yang hidup di dua desa itu pun mengganti tradisi bakar batu yang biasanya menggunakan daging babi dengan hasil kebun mereka. Antara lain menggunakan umbi-umbian hasil panen.
    Cara seperti itu, kata Lasarus, dilakukan warga untuk menyelaraskan dengan alam. Keselarasan yang telah dijalani selama beratus-ratus tahun membuat mereka bisa bertahan hidup tanpa bantuan dari pemerintah. Dua desa itu hampir tidak tersentuh pembangunan. Semua masih alami.
    Kehidupan alam dan manusia menjadi instrumen harmonisasi di dua desa tersebut. Segala sesuatu menjadi irama keseimbangan untuk keberlangsungan hidup. Tersenyum, yang biasanya hanya menjadi basa-basi, menjadi kewajiban bagi mereka.
    Namun, makin banyaknya orang luar yang berkunjung ke dua desa itu akhir-akhir ini sedikit banyak mulai memberikan efek yang kurang baik bagi warga setempat. Sebab, orang luar tidak hanya berwisata. Namun, ada juga yang merusak alam. Misalnya, ada yang menebang kayu hutan sembarangan atau menjarah hasil laut dengan alat peledak.
    ’’Dulu kami mancing bisa dapat 50 kilogram. Sekarang 3-4 kilogram saja yang didapat. Hutan kami juga sudah hancur oleh penebang-penebang liar. Kami hanya bisa menegur, tidak bisa berbuat apa-apa. Kami tak bisa memanfaatkan kearifan lokal,” tutur Spenser Pariri, tokoh pemuda sekaligus anak Kepala Kampung Leopold Pariri.
    Dua desa yang dihuni 73 kepala keluarga atau sekitar 550 jiwa itu kini berganti nama menjadi Desa Surya Paloh Tunduwe. Hal tersebut terjadi setelah ketua umum Partai Nasdem itu mengunjungi dua wilayah terpencil tersebut dan memberikan bantuan. Paloh berjanji membangun sebuah SD dengan 12 kelas, sejumlah rumah lengkap dengan kamar mandi dan pompa air bersih, serta memberikan fasilitas koperasi untuk membantu perekonomian warga.
    Menurut Spenser, desanya memang memerlukan uluran bantuan untuk membangun. Sebab jika tidak ada bantuan, infrastruktur di dua desa itu akan semakin tertinggal.
    ’’Kami kadang malu kepada para wisatawan asing karena desa kami ketinggalan dibanding desa lain," tuturnya.
    Spenser berharap dengan bantuan infrastruktur itu, tingkat pendidikan di kampungnya semakin baik. Kehidupan masyarakat juga bisa makin sejahtera.
    ’’Dulu kami pernah menggarap sawah 20 hektare secara manual. Tapi tidak adanya fasilitas yang memadai, panen kami gagal. Mudah-mudahan dengan bantuan ini panen kami lebih baik," ungkapnya.
    ’’Meski begitu, kami tidak bisa mengubah tradisi yang sudah kami jalani ratusan tahun ini. Inilah prinsip hidup kami," tegasnya. (p2/c1/ary)

sumber : http://www.radarlampung.co.id

Tradisi Barapen Khas Papua


Jombang, Sayangi.com - Sekelompok penduduk tampak bergotong royong mencari bebatuan di sungai terdekat di sudut desa Mojowarno, Jombang. Ada yang unik di balik sekelompok orang yang berkerumun memilih bebatuan. Mereka adalah masyarakat Papua yang tengah menunjukkan bagaimana memilih batu-batu yang bisa digunakan untuk barapen. Barapen sendiri memiliki arti bakar batu. Semua warga desa bahu membahu mencari bebatuan demi mengetahui keunikan budaya papua yang khas.

Pesta Bakar Batu mempunyai makna tradisi bersyukur dan merupakan sebuah ritual tradisional Papua yang dilakukan sebagai bentuk ucapan syukur atas berkat yang melimpah, pernikahan, penyambutan tamu agung, dan juga sebagai upacara kematian. Upacara barapen juga membuktikan adanya perdamaian antar masyarakat setelah terjadi perang suku.
Sesuai dengan namanya, dalam memasak dan mengolah makanan untuk pesta tersebut, suku-suku di Papua menggunakan metode bakar batu. Tiap daerah dan suku di kawasan Lembah Baliem memiliki istilah sendiri untuk merujuk kata bakar batu. Masyarakat Paniai menyebutnya dengan gapii atau ‘mogo gapii‘, masyarakat Wamena menyebutnya kit oba isago, sedangkan masyarakat Biak menyebutnya dengan barapen. Namun tampaknya barapen menjadi istilah yang paling umum digunakan.
Pesta Bakar Batu juga merupakan ajang untuk berkumpul bagi warga. Dalam pesta ini akan terlihat betapa tingginya solidaritas dan kebersamaan masyarakat Papua. Namun dalam Festival Prakarsa Rakyat yang mengumpulkan simpul-simpul perkumpulan Praxis dari seluruh Indonesia ini, tak hanya masyarakat Papua yang bahu membahu tetapi juga masyarakat desa Mojowarno Jombang dan simpul-simpul dari Aceh, Jakarta, Jawa Barat, Jogja hingga Bali. Prosesi Barapen digunakan untuk menonjolkan sekaligus mengingatkan bahwa sikap gotong royong yang telah mengakar di bumi Indonesia kini nyaris punah dan harus dibumikan kembali.
Max Binur, perwakilan kelompok yang jauh-jauh datang dari Papua mengatakan, prosesi Pesta Bakar Batu terdiri dari tiga tahap, yaitu tahap persiapan, bakar babi, dan makan bersama. "Tahap persiapan diawali dengan pencarian kayu bakar dan batu yang akan dipergunakan untuk memasak. Batu dan kayu bakar disusun dengan urutan pada bagian paling bawah ditata batu-batu berukuran besar, di atasnya ditutupi dengan kayu bakar, kemudian ditata lagi batuan yang ukurannya lebih kecil, dan seterusnya hingga bagian teratas ditutupi dengan kayu. Kemudian tumpukan tersebut dibakar hingga kayu habis terbakar dan batuan menjadi panas," katanya.
Sementara itu, menurut Max, warga yang lainnya mempersiapkan sebuah lubang yang besarnya berdasarkan pada banyaknya jumlah makanan yang akan dimasak. Dasar lubang itu kemudian dilapisi dengan alang-alang dan daun pisang. Dengan menggunakan jepit kayu khusus yang disebut apando, batu-batu panas itu disusun di atas daun-daunan. Setelah itu kemudian dilapisi lagi dengan alang-alang. Di atas alang-alang kemudian dimasukan daging babi, ayam, atau kambing. Namun karena di Jombang mayoritas penduduknya adalah islam, maka yang digunakan adalah daging kambing dan daging ayam. Setelah disusun, kemudian ditutup lagi dengan dedaunan. Di atas dedaunan ini kemudian ditutup lagi dengan batu membara, dan dilapisi lagi dengan rerumputan yang tebal.
Setelah itu, hipere (ubi jalar) disusun di atasnya. Lapisan berikutnya adalah alang-alang yang ditimbun lagi dengan batu membara. Kemudian sayuran berupa iprika atau daun hipere, tirubug (daun singkong), kopae (daun pepaya), nahampun (labu parang), dan towabug atau hopak (jagung) diletakkan di atasnya. Tidak cukup hanya umbi-umbian, kadang masakan itu akan ditambah dengan potongan barugum (buah). Selanjutnya lubang itu ditimbun lagi dengan rumput dan batu membara. Teratas diletakkan daun pisang yang ditaburi tanah sebagai penahan agar panas dari batu tidak menguap.
 Persiapan barapen
Sembari menunggu, kawan-kawan Papua yang sudah bersiap dengan pakaian tradisionalnya dan melukis dirinya dengan cat berwarna putih mulai menari diiringi musik khas Papua dengan mengelilingi barapen sembari menunggu makanan matang.
Sekitar 60 hingga 90 menit masakan itu sudah matang. Setelah matang, rumput akan dibuka dan makanan yang ada di dalamnya mulai dikeluarkan satu persatu, kemudian dihamparkan di atas rerumputan.
Syahdan, pesta Bakar Batu merupakan acara yang paling dinantikan oleh warga suku-suku pedalaman Papua. Demi mengikuti pesta ini mereka rela menelantarkan ladang dangan tidak bekerja selama berhari-hari. Selain itu, mereka juga bersedia mengeluarkan uang dalam jumlah yang besar untuk membiayai pesta ini. Pesta ini sering dilaksanakan di kawasan Lembah Baliem, Distrik Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Indonesia.
Namun, kepastian titik lokasi dilaksanakannya ini tidak menentu. Jika sebagai upacara kematian maupun pernikahan, pesta ini akan dilaksanakan di rumah warga yang memiliki hajatan. Namun, bila upacara ini sebagai ucapan syukur atau simbol perdamaian biasanya akan dilaksanakan di tengah lapangan besar. (FIT)

sumber : http://www.sayangi.com

Mengenal Tradisi Bakar Batu Rakyat Papua


Salah satu keunikan kebudayaan Papua adalah dengan adanya upacara tradisional yang dinamakan dengan Bakar Batu. Tradisi ini merupakan salah satu tradisi terpenting di Papua yang berfungsi sebagai tanda rasa syukur, menyambut kebahagiaan atas kelahiran, kematian, atau untuk mengumpulkan prajurit untuk berperang.
Tradisi Bakar Batu ini dilakukan oleh suku yang berada di lembah Baliem yang terkenal cara memasaknya dengan membakar batu. Pada perkembangannya, tradisi ini mempunyai berbagai nama, misalnya masyarakat Paniai menyebutnya Gapiia, masyarakat Wamena menyebutnya Kit Oba Isogoa.
Persiapan awal tradisi ini masing-masing kelompok menyerahkan babi sebagai persembahan, sebagian ada yang menari, lalu ada yang menyiapkan batu dan kayu untuk dibakar. Proses membakar batu awalnya dengan cara menumpuk batu sedemikian rupa kemudian mulai dibakar sampai kayu habis terbakar dan batu menjadi panas.
Kemudian setelah itu, babi telah dipersiapkan untuk dipanah terlebih dahulu. Biasanya yang memanah babi adalah para kepala suku dan dilakukan secara bergantian. Ada pandangan yang cukup unik dalam ritual memanah babi ini. Ketika semua kepala suku sudah memanah babi dan babi langsung mati, pertanda acara akan sukses. Sedangkan jika babi tidak langsung mati, diyakini acara ini tidak akan sukses.
Tahap berikutnya adalah memasak babi tersebut. Para lelaki mulai menggali lubang yang cukup dalam, kemudian batu panas dimasukan ke dalam galian yang sudah diberi alas daun pisang dan alang-alang sebagai penghalang agar uap panas batu tidak menguap. Di atas batu panas diberikan dedaunan lagi, baru setelah itu disimpan potongan daging babi bersama dengan sayuran dan ubi jalar. Setelah makanan matang, semua suku Papua berkumpul dengan kelompoknya masing-masing dan mulai makan bersama. Tradisi ini dipercaya bisa mengangkat solidaritas dan kebersamaan rakyat Papua.
Saat ini tradisi Bakar Batu bukan hanya untuk merayakan kelahiran dan kebahagian. Tradisi ini mulai digunakan untuk menyambut tamu besar yang berkunjung ke Papua, seperti kunjungan Presiden dan lainnya.

sumber : http://palingindonesia.com

Tradisi masyarakat Papua dalam minuman keras


Minuman keras (Miras) menjadi salah satu masalah di antara banyak masalah di tanah Papua. Alkohol telah membunuh orang Papua seperti masalah lainnya yang juga membunuh. Dengan mengkonsumsi alkohol yang berlebihan membuat orang tidak sadarkan diri. Ada statement mengatakan ‘’kalau orang papua kaya tidurnya di pinggiran jalan kalau miskin tidurnya di kasur empuk, kalau orang jawa kaya tidurnya di kasur empuk kalau miskin tidurnya di bawa kolong jembatan.’’
Dari statement di atas sesuai dengan realita dalam keidupan di sekitar kita, contohnya di kota Sorong. Terbukti apabila anda berolahraga pagi pada hari minggu maka anda akan menemukan orang papua kaya sedang terbaring di pinggiran jalan karena baru saja merayakan pesta miras semalam. Sebaliknya orang jawa miskin di Jakarta anda akan menemukan tempat tinggalnya di bawa kolong jembatan. Ini menunjukkan bahwa kurangnya kepedulian pemerintah setempat.
Dalam keadaan seperti itu, maka apa saja dapat dilakukan, termasuk seks bebas. Bisa mati ditabrak mobil di jalan raya, dibunuh orang di pasar, bisa juga mati karena berlebihan alkohol, dan bahkan mati karena seks bebas yang dikendalikan oleh alkohol.
Perlu diketahui bahwa angka kematian orang Papua saat ini tinggi. Sementara angka kelahiran sungguh sedikit. Hampir setiap saat orang Papua banyak yang mati karena alkohol, terutama anak-anak usia produktif. Belum lagi mati karena faktor lain. Orang Papua seakan lahir sekarang untuk mati besok. Kalau tidak lahir sekarang besok tetap mati, itulah kenyataannya.
Dalam diskusi dengan sejumlah Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Tokoh Adat, Tokoh Pemuda , Akademisi, Aktivis LSM dan Dewan Adat Papua (DAP) Wilayah Nabire, Ruben Edowai mengatakan “Dalam beberapa bulan ini saja, sudah sebanyak 365 orang dari suku Mee meninggal dunia di Nabire. Ini bukan mengada-ada, tapi data yang kami temukan di lapangan, katanya seperti dikutip PapuaPos, 20 Mei 2007. Lalu bagaimana di Jayapura, Timika, Sorong, Merauke, Biak, Serui, Fak-fak, Wamena, Pegunungan Bintang, Enarotali, Puncak Jaya dan lainnya?
Minuman keras adalah candu. Pemahaman ini bertitik tolak dari realita dan tidak bisa dipungkiri. Ada beberapa teman dalam pembicaraan mengatakan hidup tanpa minum alkohol rasanya kurang. Ucapan itu sepertinya sudah membenarkan alkohol (minuman keras) sebagai candu.
Banyak teman mengakui dengan minum alkohol (mabuk) membuat mereka percaya diri, berani tampil di depan umum untuk mengekspresikan diri, tentang bakatnya yang terpendam. Ataupun berani untuk membuat kegaduhan, bahkan ada yang menjadi berani untuk melakukan ataupun terlibat dalam kasus pemerkosaan, perkelahian dan pembuhuhan. Ini mebenarkan pengakuan Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Papua Komisaris Besar Drs. Daud Sihombing SH, Dari catatan polisi pada setiap laporan akhir tahun, semua kejadian kriminal seperti pembunuhan, pemerkosaan, penganiayaan, pencurian, penipuan, pemerasan, teror dan seterusnya berawal dari miras. Miras ini membuat orang menjadi pemalas, bermental santai tetapi ingin mendapat untung besar, dan semangat belajar para siswa sekolah pun menurun. Hal itu terjadi karena seorang alkoholik nalar sudah tidak akan berfungsi sebagai manusia normal barangkali seperti orang kelainan jiwa alis gila.
Bila kita melirik sejarah Papua, terutama di kalangan orang pegunuangan Papua mereka tidak sama sekali mengenal minuman beralkohol. Tidak ada tradisi pesta minuman keras, karena tidak ada bahan untuk produk alkohol. Kecuali derah pesisir pantai Papua mereka yang lebih dahulu sudah melakukan kontak dengan orang luar Papua. Mereka sudah mengenal minuman beralkhohol dari pohon kelapa ataupun aren yang disebut sagero (saguer/bobo).

Seorang aktivis Aborigin, Charles Perkin menuliskan, bahwa orang Aborigin sering minum dalam pertemuan-pertemuan tradisional, tidak sebagai minuman-minuman yang sengaja melanggar tata cara minum sebagimana mestinya. Mereka justru memenuhi sindrom kasihanilah saya kalau mereka di perbolehkan memperlihatkan tata cara minum yang tidak dapat diterima umum. Hal yang sama juga terjadi di kalangan para pecandu alkohol di Papua. Kadang minum hanya untuk mecari perhatian, ataupun untuk melampiaskan emosi. Dengan demikian mereka terlihat sebagai manusia yang tidak dewasa menyelesaikan masalah.
Bisakah kita menerima ketika mengatakan alkohol sebagai candu masyarakat? Entalah. Tetapi, yang jelas di dunia ini apa lagi yang bukan candu? Semuanya cantu? Hehehe……. Tidak tahu! Wow, Sebenarnya pengertian tentang candu tidak begitu dijelaskan secara detail. Makna candu kadang sama dengan ketagihan, sesuatu yang sangat disukai atau sesuatu yang menjadi kegemaran.
Kecanduan itu datang dari suatu proses yang perlahan menggerakkan kita untuk terlibat di dalammya. Setelah kita terbiasa dengan kegiatan tersebut dan menjadi kegemaran kita baru disebut sebagai kecanduan. Hanya saja candu kadang bermakna negatif, dibandingkan kata kegemaran atau hobi, atau kebiasaan.
Sahabat, tahu tidak pemberantasan miras hanya sebuah “WACANA’’.
Itulah sebabnya, pemberantasan alkoholime hanya menjadi wacana menarik diantara kita yang punya tingkat pemahaman dan nalar baik. Dengan menghilakang anggapan kolot, bahwa Alkohol hanyalah suatu masalah di kota-kota besar dan tidak di kota-kota kecil ataupun di perkampungan yang terpencil. Justru di tempat-tempat terpencil saat ini masalah alkohol sangat kritis. Tingkat penganguran sangat tinggi, di antara generasi mudahnya terjadi kebosanana yang amat sangat, dan sekolah-sekolah setempat tidak dapat menampung minat kaum mudah. Mengkonsumsi tanpa mengetahui efek samping dan dampak sebagai pembunuh jiwa manusia sehat.
Mengapa demikian? Orang yang alkoholisme tetap terlihat seperti kelainan jiwa, sakit jiwa, sebagai akibat melemah atau matikanya syaraf ingatan. Disanalah kaum perubah dan sasaran diskusi menjadi tempat pilihan. Tidak hanya diskusi tetapi, kemudian menjadi wujutnyata, karya bagi pembebasan manusia dari keterbelengguhan jiwa.
Pecandu alkohol di Papua terus bertambah. Sudah sangat mejarah kalangna muda dan tua tanpa memandang perbedaan sex. Alkoholisme menyebakan meningkatnya tingkat kriminalitas di kota maupun di perkampuangan. Dan saat ini pembunuhan bermotif alkohol semakin gencar untuk melakukan tindakan genosida di Papua. Ada beberapa kasus, misalkan pada tahun 1999, seorang intelek Papua, Obet Badii, Dosen Filsafat Fajar Timur yang dibunuh oknum tertentu. Untuk menghilangkan jejek, pembunuh lalu menumpahi minuman beralkohol dibagian mulutnya. Padahal yang sebenarnya ia tidak biasa mengonsumsi minuman beralkohol. Kita juga masih ingat untuk kepentingan membeli alkohol Arnol Ap seorang tokoh intelek mudah dijual oleh temannya yang sudah terjangkit penyakit alkoholisme.
sumber : http://unik.kompasiana.com