Masyarakat setempat percaya jika di Teluk Kabui Kampung Wawiyai, pernah
hidup sepasang suami istri yang menemukan enam telur naga.
Cerita ini berawal dari perjalanan keduanya mencari makan di tengah
hutan. Saking asyiknya, tanpa terasa kaki mereka telah melangkah sampai
ke tepi Sungai Waikeo. Di mana, mereka kemudian menemukan enam telur
naga.
Saat membawa keenam telur naga tersebut, keduanya tak memiliki firasat
apapun. Dipikirnya telur-telur itu hanyalah telur biasa saja. Makanya,
setelah dibawa pulang, mereka menyimpannya di dalam kamar sebelum
dimasak. Tapi, belum sempat dimasak, empat dari enam telur-telur itu
menetas. Dari dalam keluar sosok manusia. Empat laki-laki dan satu
wanita. Nama mereka masing-masing adalah War, Betani, Dohar, Mohammad,
dan Pintolee (yang wanita).
Seiring berjalannya waktu, kelima anak ini tumbuh. Pintolee kemudian
didapati oleh kakaknya hamil di luar nikah. Dia dihanyutkan dalam kulit
bia (kerang besar) sampai terdampat di Pulau Numfor.
Keempat kakak laki-laki Pintolee pun kemudian diangkat menjadi raja
untuk empat pulau yang besar. Yaitu: War diangkat raja di Waigeo, Betani
diangkat di Salawati, Dohar di Lilinta, dan Mohamad di Waiga.
Sedangkan, telur naga yang tidak menetas hingga saat ini masih disimpan
dan mendapat penghormatan khusus dari masyarakat setempat.
Nah, empat raja yang mendiami pulau-pulau utama itulah yang kemudian dijadikan dasar penamaan Raja Ampat ini.[]
sumber : http://365ceritarakyatindonesia.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar